Monday, December 22, 2008

Sebuah renungan

Al-I’tiroof (Sebuah Pengakuan)

Ilaahii lastu lil firdausi ahlan

Walaa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Fahablii taubatan wagfir dzunuubii

Fainnaka ghaafirudz-dzanbil ‘azhiimi

Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali

Fahablii taubatan yaa dzal jalaali

Wa‘umri naaqishuun fi kulli yaumin

Wadzanbii zaa-idun kaifahtimaalii

Ilaahii ‘abdukal ‘aashiy ataaka

Muqirrom bidzdzunuubi wa qod da’aaka

Fa in tagfir fa anta lidzaaka ahlun

Wa in tathrud fa man narjuu siwaaka

Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu

Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka

Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku

Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar

Dosaku seperti jumlah pasir

Maka terimalah taubatku Wahai Pemilik Keagungan

Dan umurku berkurang setiap hari

Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu

Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu

Seandainya Engkau mengampuni

Memang Engkaulah Pemilik Ampunan

Dan seandainya Engkau menolak taubatku

Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU

( Abu Nawas, Baghdad )

Masih selalu terngiang ditelingaku saat syair ini diperdengarkan, perenungan hati yang mendalam membawa kita mengenal diri kita yang memiliki kekurangan serta kelemahan di hadapan Allah Yang Maha Besar dan Kuasa.

Hanya dengan mengharap kasih sayangnyalah kita mampu menjalani hidup ini samapai detik ini.

Walaupun dosa terus bertambah namun Kasih Sayang-Mu ya Allah tidaklah habis untuk kami.

0 comments: